Tulisan 11-17 Juni 2024

 

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, Amin.

+JMJ+

Periode: 11 – 17 Juni 2024

Catatan 1

Kesadaran ialah dasar segala sesuatu. Tanpa kesadaran tidak ada apapun juga. Namun, di kedalaman kenyataan, tidak ada apapun juga, baik itu kesadaran atau benda apapun juga. Paradoks pun terjadi, kesadaran yang tidak berkesadaran, dan ketidaksadaran yang berkesadaran. Apakah ada kesadaran di inti kenyataan nun dalam sana? Kita hanya dapat menerka-nerka apa yang ada, sadar atau tidak. Namun, dalam kondisi-kondisi yang kita alami secara kekal, hadirlah kesadaran.

Catatan 2

Dalam penelitian kenyataan, ada 2 pendekatan yang dapat kita gunakan, yaitu pendekatan aktual dan pendekatan spekulatif. Istilah-istilah ini hanya pendekatan, tidak pasti menyampaikan makna yang aku niatkan. Pendekatan aktual adalah pendekatan terhadap kenyataan apa adanya. Sementara pendekatan spekulatif adalah pendekatan terhadap segala kemungkinan kenyataan, termasuk kenyataan-kenyataan yang relatif terhadap pada kita tidak masuk akal, dan kenyataan yang secara mutlak tidak dapat dijangkau oleh akal budi apapun.

Pendekatan spekulatif cenderung lebih pasti, karena melibatkan menghentikan kenyataan apapun pada suatu titik sehingga dapat diamati secara lebih pasti. Adapula pendekatan spekulatif melibatkan suatu pernyataan atau deklarasi tentang benda yang diamati atau ditetapkan. Pendekatan aktual cenderung kurang pasti, karena mengandalkan kenyataan dinamis yang berubah setiap saat dan karena kita bukan Allah, kita tidak dapat memahami keseluruhan kenyataan. Maka ada perbedaan berikutnya, bahwa spekulasi mengandalkan pikiran sementara aktualitas mengandalkan kesadaran.

Catatan 3

Dalam meneliti kenyataan terdalam yang sulit dijangkau dengan pengalaman langsung, spekulasi menjadi lebih berguna dalam meneliti. Masalahnya adalah ada kemungkinan kita tidak pasti dalam menangkap kenyataan yang sebenarnya dan hanyut dalam khayalan kita saja. Sebab spekulasi mengandalkan imajinasi dan bukan pengamatan langsung. Maka ada potensi spekulasi menjadi amat liar dalam menetapkan kenyataan, dan jika kita tidak sadar, kita dapat menjadi budak dari kenyataan-kenyataan yang di luar kesadaran kita.

Maka, suatu penelitian kenyataan yang baik pastilah memanfaatkan spekulasi dan aktualitas secara bersamaan. Aktualitas haruslah menjadi dasar dari spekulasi dan bukan sebaliknya. Jadi, spekulasi yang sejati bukanlah spekulasi yang kacau dan sama sekali tak beraturan, melainkan suatu spekulasi yang mengamati dan menyadari dasar dari segala hal yang ada dan nyata. Dari spekulasi itulah lahir suatu pengetahuan akan kenyataan terdalam yang disintesiskan dengan pengamatan langsung pada kenyataan-kenyataan yang paling dekat dengan kita.

Catatan 4

Mari kita berspekulasi tentang kenyataan yang terdalam dalam kesadaran. Ada yang berkata, bahwa kenyataan terdalam ialah kekosongan. Ada suatu kebenaran dalam perkataan itu, tapi kita harus menegaskan apa makna kekosongan. Sebab jika kita ingin lebih pasti tentang kenyataan terdalam itu, kita harus mengatakan secara langsung, “Inilah kenyataan yang di luar akal budi.” Kekosongan yang dimaksud ialah kekosongan akal budi. Artinya kenyataan ini begitu halus dan dalam, sehingga akal budi apapun tidak dapat menjangkaunya. Namun ada spekulasi bahwa ada satu daya yang dapat menangkap kenyataan ini, yaitu kesadaran.

Catatan 5

Apakah itu kesadaran? Kita cenderung berpikir bahwa kesadaran adalah perangkat atau daya yang memberi makan akal budi. Sehingga akal budi dapat berpikir dan mengetahui kenyataan. Namun, bila kita berpikir kesadaran adalah daya yang dapat menjangkau kenyataan terdalam padahal akal budi tidak mampu, maka kesadaran tidak harus berupa daya yang sekadar diperalat oleh akal budi. Justru akal budilah yang tunduk pada kesadaran. Kesadaran adalah rasa apapun yang kita miliki, sebelum diolah menjadi simbol-simbol dan kategori-kategori. Dapat dikatakan, kesadaran adalah mentahan kenyataan yang kita jumpai, sebelum berjumpa dengan apapun juga.

Namun, bagaimana jika kesadaran pun tidak dapat menjangkau kenyataan yang terdalam? Hal ini kemungkinan besar benar adanya. Artinya ada suatu kenyataan yang begitu jauh dan dalam, sehingga kita sama sekali tidak dapat tahu tentangnya. Dia melampaui semua kategori dan distingsi akal budi. Dia bahkan tidak dapat dirasakan. Kita tidak dapat berkata bahwa dia adalah sekadar kosong, karena kekosongan dapat dikategorikan. Dia adalah Kosong yang melampaui kekosongan apapun yang dapat kita pikirkan. Ada suatu masalah. Bila kenyataan ini tiada terjangkau oleh apapun juga, apakah yang tinggal?

Aku tidak tahu, dan tidak ada yang tahu. Hal yang lebih penting adalah apakah relasi kenyataan ini dengan kita jika seperti itu? Barangkali tidak ada. Maka kenyataan ini adalah tidak penting dan tidak relevan bagi kita. Namun, barangkali dia akan kembali untuk menghantui kita, dan kita akan mengenalinya kembali dalam rupa yang lain. Karena tidak ada yang dapat kita katakan tentang kenyataan ini, baik adanya jika kita beralih kepada kenyataan-kenyataan berikutnya.

Catatan 6

Dari kenyataan yang tidak dapat diketahui ataupun dirasakan, kita beralih pada kenyataan yang dapat diketahui dan dirasakan. Kenyataan yang pertama adalah kenyataan yang sekadar ada. Dia sekadar nyata, tanpa ada sifat atau atribut lainnya. Kenyataan seperti ini masih sulit dibayangkan, dan hanya dapat kita konsepkan. Maka pertanyaan yang penting adalah ini, “Apakah makna kenyataan yang paling mendasar?” Apa maksudnya bahwa suatu hal ini atau suatu benda itu ialah nyata? Kita tahu bahwa jika kita menerapkan suatu sifat pada suatu benda, maka benda itu mengambil bagian pada sifat tersebut. Misalnya, bola yang biru mengambil bagian atau berpartisipasi pada sifat “biru” dan juga sifat “bola”. Maka suatu hal yang nyata mengambil bagian pada Kenyataan.

Sesungguhnya aku tidak tahu apa makna mendasar dari kenyataan. Namun, kita dapat mengeksplorasi beberapa hal. Aku mengetahui adanya gagasan bahwa kenyataan ditentukan dari dapatnya suatu hal itu diindra atau tidak. Hal ini agaknya sangat terbatas, maka kita dapat memperluas gagasann ini menjadi konsep kesadaran atau pengamatan. Bila suatu hal dapat disadari atau dapat diamati, maka hal itu ialah nyata. Ini adalah gagasan yang lebih luas. Kita fokus pada konsep “dapat” dan bukan “sedang” disadari karena jika yang nyata hanyalah yang disadari, maka sesungguhnya kita masuk ke dalam kekacauan.

Kekacauan yang aku maksud adalah kemungkinan atau peristiwa suatu kenyataan muncul dari ketidaknyataan. Namun, jika aku menyadari lebih dalam, hal ini hanya kacau dari perspektif kita, dari kesadaran kita. Tidakkah mungkin bahwa suatu kemunculan dari ketiadaan secara spontan ialah sah dalam kenyataan yang menyeluruh? Ada kekacauan yang lain, yaitu kompleksitas konsep-konsep dan fenomena-fenomena yang semakin banyak. Maka baiklah kita kembali pada kenyataan yang sederhana.

Pada tahap ini, kenyataan tidak dapat diketahui maknanya, karena adalah dasar dari segala kebermaknaan lainnya. Kalau kita bertanya makna kenyataan, ya kenyataan adalah kenyataan. Kenyataan ialah dia yang tidak dapat diterapkan suatu sifat apapun atau atribut apapun kecuali dirinya sendiri. Kodrat kenyataan ialah menjadi dirinya sendiri. Kategori kenyataan adalah dirinya sendiri, tapi segala hal masuk ke dalam kategori ini. Sebab jika suatu hal tidak nyata, maka dia tidak dapat dikategorikan. Sekarang kita dapat melihat, betapa agak sulitnya mendekati kenyataan hanya dengan pendekatan spekulatif, maka kita harus mulai menganalisis berdasarkan hal-hal yang nampak dalam kesadaran kita.

Catatan 7

Dalam kesadaran, kita menjumpai 2 fenomena yang sederhana, yaitu perbedaan dan perubahan. Perbedaan menyiratkan kejamakan, dan perubahan juga adalah ekspresi perbedaan dalam waktu. Di sini mulai nampak potensi dirangkainya suatu struktur atau bentukan makna terkait kodrat kenyataan. Kenyataan yang didekati dengan spekulasi sangatlah homogen dan tidak ada tanda kejamakan apapun dalam dirinya. Hal ini membuat kenyataan sulit dipahami karena tidak dapat dibedakan dengan hal yang lain. Namun, ingatkah kita akan pembahasan yang pertama, bahwa ada kenyataan yang di luar kenyataan, atau tidak dapat diketahui?

Dalam hal ini kita sudah menjumpai suatu kejamakan. Jika ada lebih dari satu kenyataan, maka kita dapat menghasilkan perbandingan antara yang satu dengan yang lain. Pembedaan antara yang dapat diketahui dan yang tidak dapat diketahui, ini menghasilkan suatu kesadaran yang menarik. Timbullah fenomena yang baru, yaitu relasi. Apakah relasi antara yang tidak dapat diketahui dengan yang dapat diketahui? Relasi ialah kesatuan antara satu hal dengan yang lainnya. Anggota-anggota relasi haruslah berbeda di antara mereka. Sebab jika hanya ada satu hal, maka hanya ada hal itu, dan tidak ada relasi.

Catatan 8

Hanya Allah yang kekal. Semua yang lain sementara, dan jika memperoleh suatu ketidakmatian, memperolehnya dari Allah. Maka, saat perasaan yang buruk atau tidak enak muncul, kita harus memperhatikannya persis sebagai kesejatiannya, suatu kesementaraan, kefanaan. Pada saat aku menulis ini, aku mengalami kelemahan emosional yang mempengaruhi segenap daya batinku. Maka, aku mengingat pesan dari Romo Maxi dan juga Kristus, supaya aku mengambil apa yang aku butuhkan saat ini dan hadir pada saat ini. Jika aku lemah pada saat ini, janganlah aku memaksakan untuk menulis yang melampaui kekuatanku. Namun, biarlah aku menulis segala sesuatu yang baik bagi diriku untuk ditulis, dan tetap sederhana.

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan 25 Juni - 1 Juli 2024

Tulisan 18-24 Juni 2024