Tulisan 18-24 Juni 2024

 

Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.

+JMJ+

Periode: 18 – 24 Juni 2024

19 Juni 2024 22:04

Beberapa hari ini aku merasa kemalasan menguasaiku. Kekosongan kembali menguasaiku. Namun, retret di Purwokerto membuat aku merasa lebih bermakna. Bahwa Makna, maksudku Kristus, hadir di segala tempat, bahkan saat makna ciptaan tidak hadir. Sehingga aku tidak begitu terganggu saat aku tidak dapat melakukan apapun yang aku pandang bermakna. Namun, kesadaran akan Kristus, tidak selalu ada. Maka, aku tidak selalu berada dalam kondisi doa. Kekosongan ini, cukup terasa damai, walau tidak begitu berisi, ya namanya saja kosong.

Pada saat ini, ialah baik jika aku tidur. Namun, aku merasa gelisah. Atau tidak nyaman, atau tidak tenang, atau tidak puas. Karena, ada begitu banyak keinginan dan kerinduan yang aku korbankan. Sehingga, aku merasa bingung, tentang apa yang harus aku lakukan sekarang. Namun, sesungguhnya ada begitu banyak yang dapat aku lakukan, aku hanya merasa, lemah, dan seringkali tidak berdaya untuk melakukannya. Rasanya kesadaranku hilang, dan aku dikuasai kemelekatan lainnya, yaitu tidur. Sepertinya suatu kemelekatan akan satu hal utama, yaitu Kekosongan itu sendiri.

I feel utterly cut away from my past. My interests from history, are cut off. What I am once fascinated by, no longer fascinates me. And thus, my attachments too are cut off. Recently, I have felt such emptiness in my soul, which persists until now. It prevents me from doing anything that I view as meaningful. Even as simple as playing games feels like a chore. I think there is still one attachment left, the attachment to the void, which needs to be stripped away. Yet there is an awareness that the Meaning, that is Christ, is present with me in all times and places. Thus there is no need to worry.

Tuhan, aku sungguh tidak tahu, kosong dari segala bentuk pengetahuan dan pemahaman. Apa yang Engkau kehendaki, aku tidak tahu. Namun, rasanya Engkau menghendaki aku untuk bebas dan mengeksplorasi saja apapun yang ada. Sayangnya, aku tidak berdaya. Maka aku mohonkan kepada-Mu ya Kristus, kekuatan kehendak untuk melaksanakan segala yang berkenan di hadapan-Mu. Sebab aku ini makhluk yang lemah dan rapuh, sehingga aku membutuhkan seluruh daya dari-Mu untuk dapat bergerak sedikit saja. Kasihanilah aku ya Tuhan, kasihanilah aku.

20 Juni 2024 02:33

Aku mengalami bahwa kerinduan emosional akan Allah, rasanya tidak berguna. Karena kerinduan semacam itu berbau kemelekatan dan hanya menyakitkan. Namun, barangkali rasa sakit karena rindu akan Allah adalah sakit yang baik. Maka tidak boleh ditolak dan harus diterima. Seharusnya aku tidur, tapi karena aku rindu akan Allah, dan karena kemelekatanku, aku tidak dapat tidur. Lebih tepatnya aku menolak tidur. Tuhan, ampunilah aku karena kekerasan hatiku. Rasanya lemah dan lelah. Tapi aku begitu melekat pada Tuhan sehingga aku tidak mau melepas-Nya.

Emosi mulai bermain. Pikiran mulai bermain. Dan aku pun kehilangan kendali kesadaran akan diriku sendiri.

20 Juni 2024 06:35

Pada saat aku berusaha membaca buku psikologi, aku mengalami kegelisahan. Pada saat itu aku menyadari, hendaklah aku membaca dengan kesadaran dan bukan dengan pikiran dahulu. Namun, akhirnya aku tersadarkan pula oleh Roh Kudus, bahwa kesadaran bukanlah akhirnya melainkan suatu sarana untuk mencapai tujuan, yaitu kekudusan dan persatuan dengan-Nya. Pagi hari ini aku berjalan pagi, dan aku sempat mempertimbangkan hendak menghentikan pada satu putaran atau melanjutkan sampai dua putaran. Nyatanya Allah memanggil aku pada dua putaran dan aku pun menjawab Dia.

Aku pun berdoa secara spontan kepada-Nya, aku berkeluh kesah dan hendak memperbaiki diriku. Sebab ada seorang teman yang beroleh karunia, dan aku merasakan cemburu. Aku pun menyadari bahwa akarnya selalu sama, aku merasa kurang dikasihi oleh TUHAN. Namun, kenyataannya adalah aku telah menerima kasih karunia yang begitu berlimpah, sekalipun aku adalah orang berdosa. Aku dapat menyadari hadirat Ilahi yang tak terbatas, dan aku dapat beroleh sedikit saja pemahaman tentang Dia yang adalah Kasih yang Tak Terbatas. Namun, rasanya aku ini orang yang amat rakus terhadap Dia, rakus akan diri-Nya sendiri.

Kesadaran ini, bahwa aku adalah orang yang tidak tahu terima kasih menyakitkan aku. Namun, aku diteguhkan dan dipuaskan senantiasa oleh kasih Allah yang tak terbatas. Adapula aku sempat merenung tentang mana model Allah yang lebih benar, model Tomistik atau model Palamis. Namun, Allah mengingatkan aku dengan lembut, bahwa semua itu hanyalah model, alias dalam istilah ilmiah, pendekatan kepada Kenyataan. Kenyataan Ilahi yang sesungguhnya tidak dapat dikategorikan atau digambarkan dengan istilah atau keilmuan apapun. Maka teologi adalah ilmu paradoksikal.

Bagaimanapun juga, memahami TUHAN tetaplah dibutuhkan. Karena dalam relasi dengan-Nya, seluruh diri, artinya termasuk daya pengetahuan, dilibatkan. Namun, memang benar bahwa memahami TUHAN sangatlah berbeda dari pemahaman akan benda-benda tercipta. Pemahaman kita akan ciptaan dapat cocok dan pasti sesuai dengan benda yang kita pahami. Pemahaman kita akan TUHAN hanya akan pernah mendekati Dia dan tidak pernah persis mencapai-Nya. Jarak antara kita dan TUHAN tidak terbatas. Bahkan dalam Yesus Kristus, jurang antara kemanusiaan dan keilahian-Nya disadari dengan sangat intens. Akhirnya, saat aku bingung hendak menulis apa, TUHAN, memanggil aku untuk kembali kepada-Nya dan menulis lagi tentang-Nya. Artinya aku harus masuk lagi dalam pusaran filsafat dan teologi.

20 Juni 2024 13:08

I just woke up from a nap and in a dream but also not a dream Christ covered my head with His hands, it felt so warm and loving. My hands instinctively tried to grab His arm and it was also so soft and lovely. After I fully woke up, I became momentarily very conscious of Christ's presence and it is very loving and peaceful.

20 Juni 2024 16:39

Kita memulai dari pernyataan bahwa Allah sama sekali tidak dapat diketahui. Maka, dari situ lahirlah suatu paradigma filosofis yang baru. Karena Allah adalah standar segala kenyataan tapi Dia tidak dapat diketahui, artinya kenyataan apapun tidak dapat diketahui sepenuhnya. Kita hanya dapat mengetahui suatu bagian dari kenyataan sesuai kemampuan yang telah dianugrahkan kepada kita oleh Allah. Namun, segala hal ini membutuhkan suatu pembuktian yang baik dalam hukum logika. Bahwa ada Allah, dan Dia tidak dapat diketahui, ini adalah pernyataan-pernyataan yang besar.

Kita harus pertama mendefinisikan Allah. Dalam arti mendefinisikan, kita bukannya menetapkan suatu pengetahuan tentang kodrat Ilahi, melainkan kita menetapkan apa yang dapat kita ketahui tentang Allah sekalipun hanya sekecil biji sesawi. Untuk mendekati Allah kita harus berangkat dari kesadaran. Kesadaran kita menyatakan dan menyingkap bahwa ada suatu kenyataan, baik itu kenyataan pribadi atau kenyataan yang umum, yang melampaui kenyataan pribadi kita. Sekarang kita harus berusaha menyadari, apa sifat kenyataan yang amat mendasar.

Kita dapat membayangkan bahwa kenyataan adalah ruang terbesar yang melingkupi segala sesuatu. Kita tahu bahwa isi dari ruang ini dapat berubah, tapi ruangnya tiadalah berubah. Sebab sekalipun hadir suatu kekosongan dalam alam raya, maka tetap ada kenyataan, karena artinya ada yang dinyatakan yaitu si kekosongan itu. Maka, kita dapat mengetahui secara sederhana bahwa kenyataan ini kekal dan wajib ada. Syarat dasar dari kenyataan adalah dirinya sendiri. Adapula dari sifat semacam itu kita dapat mengenal bahwa kenyataan secara mendasar tidak berubah.

Apa artinya bahwa kenyataan tidak berubah? Padahal isinya terus berubah. Artinya adalah sekalipun segala isi kenyataan berubah dan datang pergi, hilang timbul, ada suatu aspek mendasar yang tidak berubah. Hal yang tidak berubah ini ialah kenyataan itu sendiri. Di sini kita mulai belajar hal-hal lain pula tentang kenyataan. Bahwa kenyataan adalah suatu hal yang berbeda dari isi atau penghuninya. Misalnya mobil, mobil memang adalah kenyataan, tapi berbeda dengan kenyataan yang tunggal, yang kekal, wajib, dan tidak berubah.

Adapula kenyataan memiliki sifat kesederhanaan. Kesederhanaan artinya kenyataan tidak terdiri dari beberapa bagian, melainkan adalah suatu hal yang tunggal yang tidak terbagi. Misalnya tubuh manusia memiliki bagian-bagian, dari bagian tubuh, ke sel, ke molekul, ke atom, sampai partikel subatomik dan seterusnya. Mengapa kita dapat mengetahui hal ini? Bilamana kenyataan adalah yang terbagi, maka dia dapat dipecah dan dapat menghilang. Namun, kenyataan tidak dapat menghilang, maka dia tidak dapat dibagi. Mungkinkah ada kejamakan dalam kenyataan yang mendasar? Hal ini sangat mungkin, tapi tidak melanggar kesederhanaan kenyataan.

Hal terakhir yang harus kita tetapkan tentang kenyataan adalah bahwa ia tidak terbatas. Namun, hal ini bagiku sendiri agak sulit untuk ditetapkan. Apa yang dimaksud dengan “batas”? Suatu batas artinya suatu benda memiliki suatu kekurangan, suatu ketidaksempurnaan. Dalam kata lain, ada suatu hal pada benda itu yang tidak nyata. Maksudku, benda yang terbatas tidaklah lengkap atau sempurna karena hanya merupakan satu bagian kenyataan. Seperti sepotong kue, memang kue, tapi tidak seluruh kue itu. Sementara kenyataan hanyalah kenyataan, tidak ada unsur ketidaknyataan yang adalah kekurangan. Maka kenyataan tidak mungkin terbatas, dan ialah tidak terbatas.

Jadi kita tahu bahwa kenyataan ialah kekal, wajib, tidak berubah, sederhana, dan tidak terbatas. Hal ini dapat mengecoh kita untuk berkata, “Kita tahu apa itu kenyataan.” Namun, 5 sifat ini tepat sekali hanya sifat, dan bukan esensi atau intisari dari kenyataan. Lalu apa intisari kenyataan? Kita tidak tahu. Bagaimana cara mengetahuinya? Aku pun tidak tahu. Mengapa inti kenyataan tidak atau bahkan tidak dapat diketahui? Karena kenyataan itu sendiri tidak terbatas. Suatu hal yang tidak terbatas tidak mungkin dapat terkandung dalam pikiran yang terbatas. Bilamana kenyataan dapat dikandung atau dihabiskan oleh suatu pikiran yang terbatas, artinya itu masih bukan kenyataan. Atau pikiran itu sebenarnya adalah kenyataan itu sendiri. Sebab hanya kenyataan yang dapat mengandung kenyataan.

Namun, semua sifat itu menunjuk pada satu kenyataan yang sudah dikenal oleh manusia sejak dia diciptakan, yaitu kenyataan yang bernama Allah. Bilamana Allah tidak terbatas, jelas Dia memiliki pengetahuan atau kesadaran dan kehendak bahkan dalam cara-cara yang melampaui pikiran kita sama sekali. Jadi membuktikan bahwa Allah memiliki pengetahuan dan kehendak sangatlah mudah kalau sudah diketahui bahwa Dia tidak terbatas. Adapula kita sudah tahu bahwa inti Allah tidak dapat diketahui, melainkan hanya sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat lain seperti bahwa Allah tidak berwujud, tidak usah dan tidak begitu layak untuk diperdebatkan.

Maka, jika Allah tidak dapat diketahui, bukankah hal-hal lain masih dapat diketahui? Jawabannya adalah ya dan tidak. Sebab, setiap benda memiliki awal dan akhirnya pada Allah. Setiap benda diciptakan atau tidak diciptakan oleh Allah, demi Allah sendiri. Maka kenyataan penuh suatu benda yang terbatas pun hanya ada pada Allah yang tidak terbatas. Karena itu kita dapat mengenal penampakan suatu benda sejauh mana Allah menganugrahkan kemampuan itu kepada kita, tapi tidak pada inti atau kepenuhan kenyataan suatu benda.

Sekarang ada hal yang harus kita bereskan. Apa relasi antara kenyataan yang bernama Allah ini dengan semua hal lain? Segala benda yang bukan Allah harus memiliki suatu awal atau pencipta. Setidaknya mereka bergantung pada suatu hal di atas mereka untuk ada, persis ini adalah Allah. Ingatlah akan analogi kue. Allah adalah kue yang tidak terbatas. Sementara benda-benda adalah bagian-bagian dari kue itu. Suatu kenyataan yang “dipotong” atau mungkin juga “diukir” sehingga menjadi suatu benda yang terbatas. Maka siapa yang berkuasa untuk menciptakan atau menghancurkan? Tiada lain dari Allah sendiri.

Pertanyaan berikutnya, apakah tujuan Allah menciptakan? Karena Allah ialah tidak terbatas, maka tidak ada yang dapat ditambahkan atau diambil dari Allah. Maka Dia mencipta hanya dengan satu tujuan, menyampaikan diri-Nya kepada ciptaan dan menarik ciptaan kepada diri-Nya. Pada akhirnya, permenungan filosofis ini menghasilkan suatu penyadaran. Bahwa sungguh segala yang ada pada kita hanyalah pemberian secara cuma-cuma, dan kita tidak dapat mengetahui apapun kecuali jika Allah yang memberikannya kepada kita. Maka, kita harus bergantung pada Allah secara penuh.

22 Juni 2024 02:57

·       Sanctification of Science

·       The First and the Second Commandment

·       Modes of Understanding

22 Juni 2024 09:24

Aku menerima suatu gagasan dari Tuhan. Lebih tepatnya beberapa gagasan. Ada suatu gagasan tentang pengudusan ilmu pengetahuan, hubungan antara Perintah Pertama dan Perintah Kedua, dan perubahan dari manusia lama ke manusia baru. Namun, saat ini ya Tuhan, aku begitu rindu untuk berbicara dengan orang lain dan membagikan gagasanku, atau tepatnya gagasan yang Engkau ilhami, atau gagasan yang aku yakini berasal dari-Mu. Lalu, aku ingat, hendaklah aku tinggal dalam komunitas, komunitas apapun itu.

(Pemisah)

Aku pikir, misteri tentang hubungan antara Perintah Pertama dan Perintah Kedua tidaklah begitu melampaui akal. Aku pikir tidak ada hubungannya dengan panteisme. Hanya suatu keinginan liar saja. Sejatinya aku tidak akan memahami sampai Engkau sendiri menyatakannya kepadaku.

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan 25 Juni - 1 Juli 2024

Tulisan 11-17 Juni 2024